Tampilkan postingan dengan label My Adventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Adventure. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Januari 2018

Menjelajahi 6 Gili Eksotis di Lombok Barat


Pulau Lombok terkenal dengan keindahan gili-gili yang mengelilinginya. Gili dalam bahasa sasak Lombok artinya pulau kecil. Dari semua gili yang ada, yang paling populer di kalangan wisatawan adalah Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air. Ketiga gili ini selalu dipenuhi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Selain ketiga gili yang sudah terkenal tersebut, sebenarnya ada beberapa gili yang tidak kalah indahnya. Di Lombok Barat terdapat sepuluh gili yang sangat eksotis yaitu Gili Kedis, Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Tangkong, Gili Poh, Gili Lontar, Gili Rengit, Gili Gede, Gili Layar, dan Gili Asahan. Gili-gili tersebut ada yang sudah terjamah investor dan memiliki penginapan, tetapi ada juga yang masih sangat sepi atau bisa dikatakan virgin island.

Ada berbagai faktor yang mempengaruhi sepinya kunjungan wisatawan ke  gili-gili di Lombok Barat salah satunya promosi yang kurang dari pihak pemerintah setempat. Dalam postingan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman saya menjelajahi 6 gili di Lombok Barat.

Berlayar ke Gili Layar



Berlayar selama satu jam dengan menggunakan perahu nelayan yang kami sewa di Pantai Cemara Lembar membawa kami sampai di Gili Layar. Gili yang sudah lama ingin saya kunjungi. Untuk sampai di Gili Layar, kami harus melewati 8 gili lainnya membuat perjalanan terasa menyenangkan. Angin laut berhembus menyentuh pipi saya, membuat jilbab saya melambai. Sesekali saya menurunkan tangan saya untuk menyentuh air laut. Laut terasa bersahabat tanpa gelombang besar.

Welcome to Gili Layar, begitulah kalimat yang tertulis di ayunan yang ada di pantai Gili Layar. Kalimat sederhana yang menyambut kedatangan saya bersama tiga orang teman dari Jakarta. Sejenak saya duduk di ayunan sambil menatap pasir putih dan birunya laut di hadapan saya.


Air laut sedang surut sehingga saya dapat melihat tumpukan terumbu karang di beberapa titik. Saya berjalan di sepanjang pantai untuk menikmati suasana gili yang sepi. Pasir pantai Gili Layar tidak lembut, tekstur pasir agak kasar dengan campuran terumbu karang yang telah mati. Beberapa ekor kerang kecil berlarian di pantai. Mereka akan segera bersembunyi di balik cangkangnya ketika saya mulai mendekat.

Di depan Gili Layar, terlihat Gili Gede dengan keindahan pasir putihnya. Di sebelah utara Gili Layar, tampak Gili Rengit yang terlihat cukup misterius dengan rerimbunan pepohonan. Saya terus berjalan di sepanjang pantai sambil menyesap udara segar. Gili ini bebas dari polusi karena tidak ada kendaraan bermotor sehingga saya tak perlu khawatir menarik nafas dalam-dalam dan menikmati setiap oksigen yang masuk ke dalam paru-paru saya.



Air yang sedang surut merupakan waktu yang kurang tepat untuk snorkeling. Tetapi kondisi itu membuat saya bisa melihat terumbu karang meski tanpa harus snorkeling. Teman saya mencoba mencari titik yang agak dalam agar dapat snorkeling karena sudah jauh-jauh datang Jakarta. Saya lebih memilih duduk di tepi pantai dan melihat keindahan laut yang terhampar di hadapan saya.



Setelah puas menikmati keindahan Gili Layar, kami menuju restoran untuk mencicipi makanan khas di gili. Menu seafood sudah tentu menjadi andalan di sini. Saya memilih menu sup ikan laut yang segar. Sebelum makanan kami tersaji, saya sempat ngobrol santai dengan seorang pelayan di restoran tersebut. Dia menjelaskan kalau dahulu terumbu karang  di sekitar Gili Layar sangat banyak dan beragam. Perubahan iklim akibat global warming menyebabkan beberapa titik terumbu karang mati. Sangat disayangkan kondisi tersebut. Di sekitar Gili Layar, aturan untuk menjaga terumbu karang cukup ketat. Para boat man tidak dibolehkan melepas jangkar sembarangan. Nelayan juga tidak dibolehkan menangkap ikan di titik-titik snorkeling. Wisatawan yang datang juga diingatkan untuk tidak menginjak terumbu karang.

Semilir Angin di Gili Rengit


Perahu yang kami tumpangi bersandar di tepi pantai Gili Rengit. Ombak di tepian gili ini lebih keras dibandingkan dengan di tepian Gili Layar. Dari atas perahu saya bisa melihat kilau kemerahan dari pantai Gili Rengit saat terkena ombak. Dalam hati saya merasa karakter pasir pantai ini mirip dengan Pantai Tangsi atau yang lebih dikenal dengan Pantai Pink di Lombok Timur.

Tekstur pantai Gili Rengit agak kasar karena bercampur dengan pecahan terumbu karang yang telah mati. Saya merasa sedih melihat karang-karang mati memenuhi sepanjang pantai. Hal ini menandakan betapa ekosistem laut di sekitar gili ini sudah mulai rusak. Hal tersebut bisa jadi diakibatkan oleh penggunaan bahan berbahaya oleh nelayan saat menangkap ikan. Saya menemukan cukup banyak pecahan ganggang merah di sepanjang pantai. Sekilas warna merah muda pasir pantai saat terkena ombak disebabkan oleh pecahan ganggang merah tersebut.

Gili Rengit merupakan salah satu gili yang tak berpenghuni di Lombok Barat. Rimbun pepohonan liar menutupi sehingga saya sulit melihat bagian dalam pulau jika hanya berdiri di dekat pantai. Saya berjalan ke arah barat dan melihat bangunan kosong seperti villa yang belum jadi dan ditinggalkan begitu saja. Ada beberapa gili di sekitar Lombok yang memang sudah dikuasai oleh investor. Memang sangat disayangkan jika pembangunan daerah pariwisata hanya menyisakan onggokan bangunan kosong tak bermanfaat.

Di sebelah barat Gili Rengit terdapat sebuah dermaga yang juga belum sepenuhnya jadi. Saat saya melangkah menuju dermaga tersebut, saya bertemu dengan sepasang suami istri yang sedang memasak pindang ikan teri. Usia mereka saya taksir sekitar 50 tahun. Berdasarkan pengakuan mereka, mereka dibayar 2 juta setiap bulan untuk menjaga bangunan yang belum jadi di Gili Rengit. Jika tidak dijaga, bangunan tersebut bisa dijarah dan diambil bahan-bahan material bangunannya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tinggal berdua saja di Gili Rengit yang begitu sepi dikelilingi pasir putih dan lautan biru. Romatis sekaligus menakutkan saya rasa, apalagi dengan adanya bangunan kosong dan rimbunan pepohonan.

Dua orang teman saya menaiki dermaga dan terlihat sibuk mengambil foto. Saya jadi tergoda untuk ikut naik dan dari atas dermaga saya dapat melihat keindahan pemandangan di sekeliling kami. Angin sepoi membelai pipi saya yang seolah takjub dengan keindahan yang kami lihat. Di hadapan kami Gili Gede dan Gili Layar terlihat sangat indah. Air laut yang jernih membuat kami dapat melihat segerombolan ikan-ikan yang berenang kesana-kemari. Kami terkejut saat tiba-tiba seekor ikan besar lewat dan menabrak tiang dermaga menimbulkan bunyi yang sangat besar. Kami sontak menengok ke bawah dan takjub melihat ikan besar itu berlalu.


Perairan di sekitar Gili Rengit cukup dalam sehingga tidak cocok untuk berenang ataupun snorkeling bagi pemula. Boat man kami menjelaskan bahwa di sekitar Gili Rengit terdapat beberapa ikan hiu. Mendengarnya saja saya sudah cukup ketakutan. Gili Rengit ini posisinya memang bisa dikatagorikan pulau terluar yang berhadapan dengan Samudera Hindia jadi wajar jika ombak juga cukup besar.

Gili Poh, Pesona Pulau Yang Masih Perawan


Dari kejauhan Gili Poh seperti pasir yang mengambang di tengah lautan biru. Gili ini merupakan pulau terluar di kawasan sekotong Lombok Barat sehingga memiliki mercusuar di tengahnya. Menjejakkan kaki di gili ini membuat saya merasa di negeri antah-barantah. Lost in paradise, begitulah kiranya sensasi yang saya rasakan di gili ini.

Gili Poh bisa dikatakan pulau perawan karena belum tersentuh pembangunan.  Hanya ada gubuk kecil dari seorang nelayan yang ada di sini. Saya berjalan menuju ke tengah gili dan melihat padang ialalang hijau yang baru tumbuh. Ketika melihat tanah yang hitam, saya yakin bahwa padang ilalang di gili ini pernah dibakar saat musim kemarau. Sangat disayangkan karena saya membayangkan pemandangan yang sangat indah jika gili ini dipenuhi ilalang yang tinggi. Tapi tak mengapa, sebentar lagi ilalang yang baru tumbuh itu juga akan meninggi dan artinya saya harus kembali lagi ke Gili Poh untuk melihatnya.

Saya berjalan mengelilingi Gili Poh dengan telanjang kaki karena pasir pantainya cukup halus. Saya menemukan beberapa cangkang kerang warna-warni, ada yang berwarna ungu, oranye, putih, dan hitam. Saya bisa melihat terumbu karang di sekitar perairan gili ini. Tidak banyaknya wisatawan yang pernah berkunjung membuat gili ini masih sangat alami dan cukup terjaga. Berjalan mengelilingi Gili Poh membuat saya merasa di dalam scene drama korea atau film holywood

Saya dan teman saya sangat betah berlama-lama di Gili Poh. Kami duduk di bawah pohon ketapang sambil menikmati debur ombak yang menghempas pantai. Saya harus mendirikan sholat karena waktu ashar telah tiba. Saya mengambil air wudhu dengan air laut yang sangat jernih. Saya sangat berharap gili ini terus terjaga keindahan dan kebersihannya. Saya medirikan dholat di bale-bale yang ada di dekat pantai. 

Sial nasib saya saat itu, kaki saya tertusuk oleh mata pancing yang dibiarkan sembarangan oleh nelayan. Di Gili Poh hanya ada satu kakek tua yang sedang memancing ikan di pinggir laut. Saya berpikir kalau mata kail itu adalah miliknya. Saya sempat meringis kesakitan saat berusaha mencabut mata kai tersebut tetapi tidak berhasil. Dengan bantuan boat man, mata kail tersebut tercabut tanpa mengakibatkan rasa sakit. Ternyata melepas mata kail memiliki teknik sendiri, bukan asal cabut. Bertambahlah pelajaran hidup bagi saya. Seusai sholat, dengan berat hati kami meninggalkan Gili Poh karena matahari telah condong ke ufuk barat.

Kemah Seru di Gili Sudak


Jika saya ditanya tentang lokasi kemah yang bagus dengan pemandangan pantai di Pulau Lombok, saya pasti akan menjawab Gili Sudak. Gili ini memang bukan pulau perawan layaknya Gili Poh ataupun Gili Tangkong karena sudah ada villa dan restoran di gili ini, akan tetapi suasana tenang di Gili Sudak sangat cocok untuk kegiatan kemah.

Saya pernah kemah di Gili Sudak bersama teman-teman dari komunitas yang aktif mempromosikan keindahan pariwisata Lombok di media social. Acara kemah yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB ini dilaksanakan di Gili Sudak sebagai salah satu sarana promosi. Keindahan gili-gili di Lombok Barat memang tidak sepopuler gili-gili di Lombok Utara.
Saat itu langit cerah dengan cahaya bulan purnama. Di balik ranting dan daun cemara, cahayanya menemani diskusi kami malam itu. Air laut di sekitar Gili Sudak begitu tenang tanpa riak ombak. Pasir pantai yang putih dan lembut membuat kami leluasa untuk duduk nyaman mesti tanpa menggunakan alas. 

Keesokan harinya saya terbangun saat adzan subuh berkumandang dari masjid di seberang gili. Suasana pagi di Gili Sudak begitu tenang. Laut yang memisahkan Gili Sudak dengan Pulau Lombok seolah menjelma kolam renang dengan warna air kehijauan. Saya duduk di pasir pantai sambil menanti matahari terbit dari balik pegunungan.


Setelah selesai sarapan, kami melakukan acara bersih-bersih pantai. Meskipun di gili ini tidak ada rumah penduduk, akan tetapi ada beberapa sampah yang terbawa oleh air laut. Sangat disayangkan ketika masyarakat masih ada yang membuang sampah sembarangan ke sungai karena pasti sampah tersebut akan bermuara ke laut dan terdampar di gili-gili yang ada disekitar Pulau Lombok. Kami juga melakukan transplantasi terumbu karang di sekitar Gili Sudak karena di beberapa titik terumbu karang telah rusak karena nelayan menangkap ikan dan melepas jangkar secara sembarangan. Kini, nelayan dilarang untuk menangkap ikan di sekitar Gili Sudak agar kerusakan tidak semakin parah.

Perairan di sekitar Gili Sudak merupakan ekosistem bagi bintang laut. Di tempat ini kita bisa berenang sambil melihat berbagai jenis bintang laut, ada yang berwarna cokelat dan biru. Banyak orang yang menganggap bintang laut di sekitar gili ini sudah mati dan membawanya ke daratan untuk foto. Hal tersebut tidak dibenarkan karena sebenarnya bintang laut tersebut masih hidup dan bisa mati jika terlalu lama dibawa naik ke permukaan air laut.


Jika anda menyukai permainan air, di Gili Sudak juga tersedia tempat penyewaan kano dan banan boat. Jika sudah lelah, anda bisa memesan makanan di restoran atau sekedar meminum kelapa muda di pinggir pantai. Restoran Nirvana di Gili Sudak mempekejakan sekitar dua belas orang lokal sebagai pelayan maupun tukang masak. Cita rasa lokal dapat anda nikmati di restoran ini.

Pohon Winter Sonata di Gili Nanggu


Anda pernah menonton drama korena dengan judul Winter Sonata? Jika anda pernah menontonnya, anda pasti mengingat scene drama tersebut di tengan pepohonan cantik di korea sana. Banyak orang menganalogikan pepohonan di Gili Sudak mirip dengan pepohonan di scene drama korea tersebut. Hal tersebut membuat saya cukup penasaran dan ingin melihatnya langsung.
Turun dari perahu, saya sama sekali tidak melihat pohon yang orang-orang maksud. Hanya ada pohon cemara di tepi pantai dengan ranting yang rindang. Dimana pohon winter sonata? Di balut rasa penasaran, saya berjalan menuju bagian utara Gili Nanggu. Dari kejauhan saya hanya melihat pohon pandan berduri di tepi pantai. Melewati villa dengan design rumah adat Lombok, saya melihat pohon yang dimaksud. 

Dalam bahasa sasak Lombok, saya mengenal pohon tersebut dengan nama Loam Mekah, saya tidak tahu nama pohon tersebut dalam bahasa Indonesia. Saat kecil saya sering memakan buah pohon tersebut karena banyak tumbuh di halaman sekolah saya saat SD. Rasa buahnya manis jika sudah matang dengan bau yang cukup khas. Jenis pohon ini berduri dan sangat tidak dianjurkan untuk berjalan di bawah pohon ini tanpa alas kaki. Setelah hari itu, beberapa kali saya kembali melihat pohon tersebut di Gili Nanggu karena banyak yang meminta ditemani jalan-jalan dan berfoto di sana. Ternyata, hal-hal sepele bisa menjadi daya tarik wistawan untuk datang. Pohon Loam Mekah contohnya.
Gili Nanggu juga merupakan salah satu penangkaran kura-kura di Lombok. Selama ini, wisatawan hanya mengetahui penangkaran kura-kura yang ada di Gili Trawangan Saja. Kura-kura di Gili Nanggu di pelihara selama dua tahun sebelum dilepas ke lautan. Jika terlalu kecil saat dilepas, dikhawatirkan mereka tidak mampu bertahan hidup di lautan. Jika anda ingin melepas kura-kura ke laut dan menamainya dengan nama anda sendiri, anda bisa melakukannya dengan membayar donasi sebesar 150.000 rupiah.

Selain pohon winter sonata dan penangkaran kura-kura, Gili Nanggu juga merupakan salah satu spot snorkeling di Pulau Lombok. Meskipun terumbu karang sudah tidak sebagus dahulu, di sekitar Gili Nanggu terdapat banyak sekali ikan dengan warna-warni yang indah. Anda bisa melihat dinding ikan ataupun ikan nemo yang lucu di antara terumbu karang. Pastikan anda ditemani boat man ataupun guide yang sudah mengetahui spot-spot terbaik untuk snorkeling di Gili Nanggu.

Senja yang Romantis di Gili Kedis


“Welcome to my island.”Seorang wisatawan mancanegara berseloroh saat saya turun dari perahu. Ia dan seorang temannya sedang duduk santai di Gili Kedis. Gili honeymoon, begitulah orang-orang menyebut gili ini karena sering dijadikan destinasi untuk pasangan yang sedang berbulan madu. Ada juga yang menyebutnya gili cinta karena gili ini berbentuk lambang cinta saat difoto dengan menggunakan drone. Apapun sebutannya, saya menjadikan Gili Kedis sebagai salah satu spot terbaik untuk menikmati senja.

Dahulu, sebelum wisata Lombok popular Gili Kedis termasuk gili perawan karena tak ada bangunan apapun. Seiring ramainya wisatawan yang berkunjung, masyarakat membangun toilet. Ada pro dan kontra akan hal tersebut, tetapi hal tersebut tidak lantas mengurangi keindahan Gili Kedis. 


Saya berjalan menuju sebelah timur gili dan melihat keindahan terumbu karang yang menyembul dari dalam air laut yang perlahan mulai surut. Seorang kakek tua duduk di dekat perahu yang juga tua sambil menawarkan kulit kerang. Satu kulit kerang besar harganya sepuluh ribu rupiah. Ada juga kulit kerang kecil yang ia rangkai menjadi gelang. Aku terharu melihat kegigihan sang kakek dalam mecari rizki. Memanfaatkan geliat pariwisata, ia tak mau hanya berdiam diri dan hanya menjadi penonton.

Dua orang bocah lelaki dan perempuan berlari di sekitar gili sambil sesekali berteriak histeris saat melihat binatang-binatang laut. Mereka wisatawan asing yang berasal dari Australia. Gili Kedis seolah menjelma laboratorium alam bagi mereka saat itu. Mereka menangkap kerang kecil, bintang laut dan mengamatinya sejenak sebelum mereka melepaskannya kembali ke laut. Sesekali mereka berlari ke arah ibu mereka sambil menceritakan binatang laut yang mereka temui. 

Senja mulai turun dengan pendar jingga yang begitu memesona. Dari Gili Kedis, kita bisa melihat senja yang perlahan seolah tenggelam ke dalam samudera. Di pantai terdapat ayunan yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati suasana senja yang romantis di Gili Kedis.

Video Pesona Gili Kedis



Keterangan tambahan:
Biaya sewa perahu untuk ke Gili Layar, Gili Poh, dan Gili Rengit Rp.500.000,-
Biaya sewa perahu untuk ke Gili Nanggu, Gili Sudak, Gili Kedis Rp. 300.000,-
Biaya sewa alat snorkeling Rp.50.000,-
Kisaran harga makan di Gili Layar dan Gili Sudak mulai dari Rp.60.000-Rp.100.000/porsi

Tulisan ini buat dalam rangka mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Gramedia dengan tema #GramediaHolidaySeason

Rabu, 13 Desember 2017

Menari Bersama Senja di Pantai Selong Belanak


Selalu ada kisah yang berbeda di setiap senja. Bagaimanapun kondisi saat ia datang menemani hari-hariku, aku selalu menyukainya. Kadang ia bulat sempurna menghadirkan semburat jingga di batas cakrawala. Kadang ia bersembunyi di balik awan yang menggantung di garis batas antara langit dan samudera. Tapi ia selalu memesona dengan keromantisan suasananya.

Salah satu tempat favoritku saat menikmati senja adalah Pantai Selong Belanak. Debur ombak yang menghempas pantai, perahu nelayan, bukit-bukit kecil, dan pasir pantai yang membentang luas menjadi ornamen yang menambah keindahan senja di pantai ini.


Pantai Selong Belanak terkenal sebagai tempat berselancar di Pulau Lombok. Pantai ini selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Jika senja telah tiba, para wisatawan akan duduk di pasir putih sambil menatap ke arah ufuk barat. Mereka menikmati senja sambil menyeruput kopi khas Lombok atau menyantap jagung bakar.

Tarian Senja Selong Belanak Video




Senja di Selong Belanak begitu berwarna. Para nelayan saling membantu mendorong perahu menuju ke laut. Waktu menangkap ikan telah dimulai saat dunia beranjak temaram. Anak-anak nelayan berlarian di pantai sambil telanjang. Kulit hitam mereka menegaskan bahwa mereka tumbuh bersama sengatan matahari. Ya, mereka anak-anak pesisir yang senantiasa bercengkerama dengan debur ombak dan asinnya air laut.


Aku sudah lima kali menanti senja di pantai Selong Belanak. Ada saat dimana matahari terbenam di antara bukit-bukit kecil nun di sana. Akan tetapi, pada bulan November, aku mendapati matahari terbenam di lautan. Aku begitu bahagia menatap senja yang perlahan hilang seolah tertelan samudera. Di antara perahu-perahu nelayan senja berlalu menyisakan sepenggal cerita yang akan sulit terlupa. Romantisme, harapan, keindahan, kedamaian, kesunyian, bahkan kerapuhan seolah merambat menjalari setiap detik yang ia sisakan bersama rona jingga.

Pantai Selong Belanak terletak di Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Dari Kota Mataram, aku membutuhkan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam untuk mencapai pantai ini. Untuk masuk ke area pantai, aku harus membayar biaya 10.000 rupiah saja sudah termasuk biaya parkir. Perjalanan yang aku lewati menuju pantai ini sangat indah karena dihiasi bukit-bukit cantik di sepanjang perjalanan. Aku bisa melihat padi gogo rancah yang ditanam penduduk di lereng-lereng bukit. Sungguh perjalanan yang indah.



Rabu, 15 November 2017

Tebing Kelep, Destinasi Favorit Untuk Pecinta Hijau


Aku suka warna hijau, itulah kenapa aku sangat menyukai pemandangan hutan dan pegunungan. Kalau melihat pemandangan yang hijau, perasaanku jadi terasa segar dan semangatku menjadi menggeliat. Ini memang sangat subyektif, tapi para pecinta warna hijau pasti sangat paham betul akan hal tersebut.

Suatu ketika, aku pernah jalan-jalan dengan seorang teman dari Jakarta. Di hari pertama ia datang ke Pulau Lombok, ia begitu mudah lelah karena kami mengunjungi pantai-pantai. Ia suka tapi tidak sampai exited dan berucap "wow". Akan tetapi, saat kami mengunjungi daerah Sembalun dan Senaru yang terletak di kaki Rinjani, tak henti-hentinya ia berdecak kagum. Tak ada gurat lelah di wajahnya.


Salah satu destinasi wisata Lombok yang sangat cocok untuk pecinta hijau adalah Tebing Kelep. Aku sudah tiga kali jalan-jalan ke Tebing Kelep tapi aku selalu ingin kembali lagi. Tebing Kelep terletak di daerah Senaru Kabupaten Lombok Utara. Destinasi ini baru terkenal sekitar satu tahun terakhir karena lokasinya yang sangat fotogenic.

Tebing Kelep terletak di kebun kopi milik penduduk. Sebuah spot foto yang terbuat dari kayu dengan kapasitas empat orang menjadi magnet bagi para pengunjung untuk datang. Dari spot tersebut anda dapat melihat keindahan air terjun Tiu Kelep yang dikelilingi rimbun pepohonan. Tebing kelep sangat diminati oleh pengunjung terutama saat hari libur sehingga anda harus antri untuk dapat mengambil foto.


Jika anda penikmat kopi, anda bisa menikmati kopi khas Lombok sambil menghirup udara segar di tempat ini. Di sekitar Tebing Kelep, anda bisa melihat pohon kopi, pohon coklat atau kakao, serta pohon avocado milik penduduk. Anda tidak perlu khawatir berlama-lama di tempat ini karena lokasinya aman dan telah tersedia fasilitas umum seperti toilet.

Untuk mencapai lokasi Tebing Kelep, anda harus menggunakan sepeda motor melewati jalan tanah sekitar 15 menit. Jika anda memakai mobil, anda tidak perlu khawatir karena telah tersedia jasa ojek dengan tarif 20.000 rupiah. Jalur yang bisa anda tempuh jika ingin jalan-jalan ke Tebing Kelep yaitu Kota Mataram-Pusuk Lombok Utara-Senaru-Tebing Kelep.

Minggu, 17 September 2017

Eksotisme Air Terjun Mangku Sakti, Mangku Kodeq, dan Kuda Sembrani


Pulau Lombok memiliki beberapa destinasi wisata yang layak disebut surga tersembunyi seperti Pantai Telawas, Pantai Munah, Pantai Segui, Pantai Tunaq, Air Terjun Tiu Sekeper, Air Terjun Mangku Sakti, Mangku Kodeq, dan Kuda Sembrani. Menikmati perjalanan menuju destinasi-destinasi tersebut mengahdirkan kenangan perjalanan yang sangat membekas dalam ingatan saya. Keindahan pemandangan berbalut keseruan perjalanan yang penuh tantangan.

Dari semua kisah perjalanan saya mengunjungi surga tersembunyi di Pulau Lombok, perjalanan yang paling berkesan adalah saat jalan-jalan ke Air Terjun Mangku Sakti, Mangku Kodeq, dan Kuda Sembrani. Ketiga air terjun ini terletak di dalam hutan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) tepatnya di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur.

Perjalanan Seru Menuju Air Terjun Mangku Sakti, Mangku Kodeq, dan Kuda Sembani.


 Dari Kota Mataram saya dan dua orang kawan dari Jakarta mengunjung air terjun yang namanya baru booming di Pulau Lombok ini. Kami membutuhkan waktu sekitar 3 jam perjalanan untuk sampai di pintu tempat pembelian karcis. Harga karcis saat itu cukup murah yaitu 7.000 rupiah/ orang untuk wisatawan lokal. Perjalanan menantang dimuali pada titik ini. Jalan yang harus kami lewati tidak bisa dilalui dengan menggunakan mobil, kami harus menggunakan jasa ojek. Tarif ojek cukup mahal, pada awalnya mereka menyebut tarif Rp. 100.000. Setelah drama tawar menawar yang cukup alot, akhirnya disepakati tarif ojek sebesar Rp. 70.000. Ojek juga bisa merangkap sebagai guide lokal dengan menambah biaya guide sebesar Rp. 50.000. Jika ditotal, biaya yang harus kami keluarkan cukup mahal untuk tarif wisatawan lokal, akan tetapi harga tersebut malah menambah rasa penasaran dalam hati saya.

"Seindah apakah Air terjun di ujung perjalanan ini?" Begitulah pertanyaan yang memenuhi hati dan pikiran saya. Jalan yang harus kami lalui sangat buruk dan membuat saya sangat khawatir. Jalan tanah berbatu dan banyak tanjakan yang berkelok cukup tajam membuat perjalanan terasa sangat menantang. Tiba-tiba motor yang saya tumpangi mogok. Dua orang teman saya sudah melaju cukup jauh. Tidak ada sinyal internet. Suasana hutan sepi. Lengkap sudah suasana tersebut membuat saya hampir saja menyerah. Pak Indrawan selaku ojek saya berusaha menenangkan sambil terus mencoba menghidupkan motor. Beruntung sekali rasanya saat motor sudah bisa hidup kembali sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan.


"Kenapa jalan ini buruk sekali ya pak? Apakah tidak ada perbaikan jalan dari pemerintah? Kalau begini kan bisa berbahaya buat wisatawan yang berkunjung." Saya mulai cerewet melihat kondisi jalan yang kami lewati. "Jalan ini awalnya dibuat oleh swadaya masyarakat. Kami mengeraskan jalan di beberapa titik dengan dana dari pembelian karcis masuk. Akan tetapi, setelah air terjun Mangku Sakti, Mangku Kodeq, dan Kuda Sembrani tekenal, pihak Taman Nasional Gunung Rinjani mengambil alih uang pembelian karcis. Setelah itu, masyarakat tidak mau lagi memperbaiki jalan ini. Sekarang kita tunggu saja TNGR yang memperbaiki jalan." Penjelasan Pak Indrawan membuat saya paham. Saya berharap suatu saat pihak TNGR memperbaiki jalan tersebut agar lebih layak untuk dilewati wisatawan. Setelah sekitar 45 menit, akhirnya kami sampai di tempat parkir motor tempat teman saya menunggu.
Dari tempat parkir, kami harus tracking melewati hutan sekitar 20 menit. Track yang kami lewati tidak terlalu ekstrim, hanya jalan landai dan sesekali menurun. Sesekali saya mendengar suara burung hutan dan suara kawanan monyet yang melompat di pepohonan. Kami juga melewati bebatuan yang menurut Pak Indrawan merupakan bebatuan sisa letusan Gunung Samalas pada tahun 1257. Saya memperhatikan kontur bebatuan hitam tersebut dan sangat takjub dengan pemandangan yang saya lihat. Berhektar-hektar bebatuan hitam memenuhi wilayah ini. Pohon-pohon asam kerdil bisa tumbuh di atas bebatuan tersebut. Berpegangan pada akar-akar pohon kami turun menuju sungai yang menjadi aliran dari Air terjun Mangku Sakti.

Terpesona Debur Air Terjun Mangku Sakti


 Konon pada zaman dahulu ada seorang pertapa tua yang bertapa di Air Terjun ini. Mangku merupakan sebutan untuk seorang tetua adat yang dihormati di Desa Sajang. Mangku ini sifatnya  turun temurun hingga saat ini dan memimpin acara-acara ritual adat di Sembalun.

 Air Terjun Mangku Sakti memiliki debit air cukup besar dengan ketinggian sekitar 40 meter. Air terjun ini terbentuk dari aliran sungai dengan hulu Danau Segara Anak Rinjani. Air terjun ini warnanya berubah-ubah sesuai aktivitas dari Gunung Rinjani. Kadang airnya berwarna tosca yang artinya kandungan belerang di dalam air sedang tinggi. Akan tetapi, bila kandungan belerang sedang rendah airnya akan jernih dan agak hijau. Jika musim hujan, air terjun ini akan keruh karena airnya bercampur lumpur yang disebabkan oleh erosi.

Mandi dan berendam di Air Terjun Mangku Sakti dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit karena adanya kandungan belerang. Akan tetapi, pengunjung tidak dibolehkan untuk berenang terlalu dekat dengan posisi jatuhnya air terjun karena arusnya cukup keras. Jika anda mandi di air terjun ini, jangan sembarangan menaruh pakaian di atas bebatuan karena bisa terkena duri pohon bebie (nama pohon dalam bahasa sasak Lombok) yang menyebabkan gatal-gatal. Setelah puas menikmati keindahan Air Terjun Sakti, kami melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Mangku Kodeq.

Eksotisme Dinding Bebatuan Mangku Kodeq

Kodeq dalam bahasa sasak Lombok berarti kecil. Air terjun ini memang tidak terlalu besar, ketinggian airnya sekitar dua sampai tiga meter saja. Walaupun kecil, jangan pernah meremehkan air terjun ini karena Mangku Kodeq pernah menelan korban jiwa. Seorang wisatawan asal Jakarta meninggal di air terjun ini karena tenggelam akibat pusaran air yang sangat kuat.


Air Terjun Mangku Kodeq tersembunyi di balik dinding bebatuan yang sangat eksotis. Untuk bisa melihat ait terjun ini, kami harus berjalan melewati sungai yang diapit oleh dinding bebatuan sekitar 25 meter. Saat berada di dalam sungai tersebut, saya merasakan sensasi petualangan yang sangat berbeda. Air sungai tersebut tidak terlalu dalam, hanya sampai pinggang saya. Kami harus ekstra hati-hati karena di dasar sungai terdapat bebatuan yang cukup licin dan membuat kaki sakit. 

Kuda Sembrani yang Memikat Hati

 Tidak banyak wisatawan yang mengunjungi Air Terjun Kuda Sembrani karena biasanya mereka cukup puas dengan keindahan Mangku Sakti dan Mangku Kodek. Rasa penasaran saya harus saya tuntaskan sehingga saya melanjutkan perjalanan menuju air terjun tersebut. 
Track menuju Air Terjun Kuda Sembrani cukup melelahkan karena kami harus melewati bebatuan yang besar. Saya harus berpegangan pada akar-akar pohon agar tidak terjatuh. Suasana track agak mistis kalau menurut saya karena jarang dilalui. Semak-semak sedikit menutupi jalan setapak yang kami lalui. Air Terjun Kuda Sembrani membentuk aliran berkelok yang mirip dengan Mangku Kodeq. Aliran airnya membentuk kolam kecil yang bisa digunakan untuk berenang bagi pengunjung.

Petualangan hari itu sangat memuaskan. Meskipun harus melewati jalan yang buruk, suatu saat saya ingin kembali menikmati keindahan ketiga air terjun tersebut. Dari semua air terjun di Pulau Lombok yang pernah saya kunjungi, ketiga air terjun ini yang paling berkesan bagi saya. Keindahan air terjun berbalut eksotisme bebatuan yang tidak saya temukan di air terjun lainnya.

Jika anda penasaran dengan keindahan Air Terjun Mangku Sakti, Mangku Kodeq, dan Kuda Sembrani, anda bisa langsung pesan tiket menuju Lombok.


Dari Bandara Internasional Lombok, anda dapat menempuh rute : Bandara Internasional Lombok - Sembalun - Desa Sajang - Tempat Pembelian Karcis - Air Terjun Mangku Sakti - Mangku Kodeq- Kuda Sembrani.

Video Perjalanan Ke Mangku Sakti, Mangku Kodeq, dan Kuda Sembrani



Tips Mengunjungi Air Tejun Mangku Sakti, Mangku Kodeq, Kuda Sembrani

1. Hindari mengunjungi air terjun saat musim hujan karena jalan akan sangat licin dan hampir tidak mungkin untuk dilalui. Selain itu, air terjun akan keruh dan rentan terjadi banjir.
2. Sangat disarankan untuk memakai jasa ojek walaupun anda datang ke Sajang menggunakan motor. Jalan yang buruk membutuhkan keahlian dalam memilih jalan. Kalau tidak biasa, akan sangat berbahaya terutama saat melewati tanjakan. Ojek juga bisa merangkap guide lokal agar perjalanan lebih aman dan nyaman karena melewati hutan yang sangat sepi.
3. Jangan lupa membawa makanan dan minuman karena tidak ada penjual di sekitar air terjun.
4. Jika ingin ke Mangku Kodeq, jangan coba-coba berenang tanpa ditemani guide karena akan sangat berbahaya.

Estimasi Biaya Yang Diperlukan

Sewa mobil avanza include BBM dan driver Rp.600.000
Karcis masuk Rp. 7000/ orang
Biaya Ojek Rp. 70.000/ojek
Biaya guide lokal Rp. 50.000/ guide







Selasa, 27 Juni 2017

Pesona Khazanah Ramadhan di Masjid Hubbul Wathan Lombok


Malam itu terasa begitu syahdu dengan lantunan ayat suci Al-qur'an yang dibaca oleh Syeikh Ahmad Jalal Abdullah Yahya yang berasal dari Yordania sebagai imam sholat tarawih di Masjid Hubbul Wathan Lombok. Sesekali ia membacanya dengan suara terbata diiringi isak tangis yang membuat air mataku tak tertahan lagi. Ramadhan kali ini terasa begitu dalam menyentuh relung kalbu masyarakat Lombok. Masjid Hubbul Wathan selalu penuh setiap malammya oleh jama'ah.

Diperkirakan ribuan orang selalu datang untuk mengikuti shalat tarawih bersama imam-imam yang berasal dari luar negeri. Mereka adalah Prof. Dr. Syeikh Khalid Barakat (Lebanon), Syeikh Ezzat eL-Sayyed (Mesir), Syeikh Mouad Douaik (Maroko), dan Syeikh Ahmad Jalal Abdullah Yahya (Yordania).

Di sepuluh malam terakhir, Islamic Center Lombok semakin penuh oleh masyarakat yang melakukan i'tikaf. Banyaknya jama'ah membuatku mengingat hiruk pikuk suasana MTQ di masjid itu tahun 2016 yang lalu. Ya, sejak peresmiannya, Islamic Center Lombok selalu dipenuhi oleh masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Lombok. Terpilihnya Pulau Lombok sebagai destinasi wisata halal dunia tidak luput dari komitmen pemerintah dalam melakukan berbagai macam promosi.

Di tahun 2017 ini pemerintah provinsi Nusa Tenggara Barat bekerjasama dengan Republika menggelar acara yang bertajuk Kampung Khazanah Ramadhan. Acara ini berlangsung pada tanggal 25 Mei hingga tanggal 25 Juni 2017 dan mengahdirkan berbagai acara yang sangat menarik bagi masyarakat dan wisatawan yang menikmati ramadhan di Lombok.



Melewati Jalan Langko Kota Mataram kita akan merasakan kemeriahan suasana kampung khazanah ramadhan dengan adanya lampion warna-warni dengan hiasan kaligrafi. Warna-warni yang menghiasi hingga Islamic Center tersebut menegaskan betapa masyarakat Lombok mampu hidup indah dalam suasana kebhinekaan. Lampion-lampion tersebut dipasang oleh organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di Kota Mataram. Di tengah maraknya isu intoleransi di Indonesia, suasana ramadhan di Lombok mampu menepis isu tersebut dengan tindakan nyata yang begitu indah dan mendamaikan.

Ketika aku mengendarai motor di malam hari saat menuju Islamic Center, aku dengan sengaja memelankan laju motorku agar bisa menikmati suasana itu. Sungguh hatiku merasakan kebahagiaan dan dari lubuk hati terdalam berdo'a agar toleransi antar umat beragama di NTB tetap terjalin indah.


Kemeriahan acara khazanah ramadhan begitu terasa saat aku memasuki gerbang Islamic Center. Aku sangat sering mengunjungi Islamic Center sebelumnya, tetapi ramadhan kali ini suasana Islamic Center terasa begitu berbeda. Aku takjub begitu melihat area parkir yang begitu luas penuh oleh kendaraan.

Gema lantunan ayat suci Al-qur'an begitu menggetarkan hati setiap pendengarnya. Di pelataran masjid sebelah timur terpajang kaligrafi-kaligrafi indah karya para peserta lomba. Aku terus meyusuri lorong sebelah selatan dan melihat foto-foto suasana keisalaman di Pulau Lombok dan Sumbawa. Aku selalu suka melihat pameran fotografi terutama saat objek fotonya adalah budaya dan bangunan masjid kuno.


Langit Kota Mataram diselimuti mendung. Gerimis mulai turun membuat suasana semakin syahdu dan khusyuk. Genangan air di pelataran Masjid Hubbul Wathan membuat refleksi bangunan masjid yang terlihat sangat indah. Aku melangkah memasuki masjid bagian selatan dan melihat bazar buku. Buku selalu menjadi candu buatku apalagi jika melihat tulisan diskon di keterangan harga. Selama acara khazanah ramadhan banyak buku-buku terbitan Republika yang bisa kita beli dengan harga yang sangat menggiurkan.

Sebuah upaya yang sangat bagus dari pemerintah provinsi NTB dan Republika dalam meningkatkan budaya literasi di kalangan masyarakat. Seperti kita ketahui bersama, di zaman serba online saat ini masyarakat lebih banyak berselancar di media sosial daripada membaca buku. Aku berharap bazar buku seperti itu bisa dilaksanakan secara rutin dan berkala.



Selain bazar buku, ada juga acara takshow bersama penulis nasional yaitu Habiburrahman El Shirazy dan Tere Liye. Aku jadi teringat pertemuan dengan kedua penulis tersebut di tahun 2015. Habiburrahman El Shirazy merupakan sahabat dari Tuan Guru Bajang (Gubernur NTB) sejak kuliah di Mesir. Kang Abik memiliki banyak sekali penggemar di Pulau Lombok. Wajar saja jika kehadiran beliau di acara pesona khazanah ramadhan di Islamic Center begitu menyedot perhatian banyak orang.

Banyak penggemar yang datang untuk mendengar sharing pengalaman beliau di dunia kepenulisan. Ada juga yang datang dengan membawa setumpuk buku untuk ditandatangani. Jika Kang Abik bersahabat dengan Tuan Guru Bajang, Tere Liye merupakan penulis yang karya-karyanya sangat disukai oleh putri TGB. Karya Tere Liye yang beberapa kali mengangkat setting lokasi di wilayah NTB seperti Gili Trawangan, Gunung Rinjani dan Pulau Bungin di Sumbawa. Seperti Kang Abik, Tere Liye juga memiliki banyak sekali penggemar di NTB. Seingatku kedatangan Tere Liye pada acara pesona khazanah ramadan merupakan kunjungan ketiga kalinya di Pulau Lombok.


Di samping tempat bazar buku terdapat pameran replika pedang Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Dengan membayar infaq seikhlasnya, masyarakat bisa melihat dan mempelajari benda-benda yang sangat bersejarah dalam perkembangan agama islam tersebut. Entah mengapa ada rasa haru saat aku melihat benda-benda tersebut. Aku seolah dapat merasakan bagaimana Rasulullah saw berjuang dalam dakwah islam di zamannya. Perhatianku tertuju pada pedang Al-ma'thur yang merupakan pedang kesayangan Rasulullah saw.


Pedang Al-ma'thur memiliki tinggi sekitar 120 cm dan dalam sejarahnya Rasulullah saw sudah menggunakan pedang tersebut sejak usia beliau 15 tahun. Rasulullah saw membawa pedang tersebut saat berhijrah ke Madinah. Selama ini aku sangat suka membaca sejarah dakwah Rasulullah saw bersama sejarah perang yang ia jalani dalam perjuangan dakwahnya.

Melihat pedang Al-ma'thur, aku seolah kembali ke dalam lembaran buku-buku sejarah tersebut dan menyaksikan bagaimana dengan gagahnya Rasulullah memenangkan perang Badar dan perang-perang lainnya. Acara pameran replika pedang nabi dan para sahabatnya sangat berkesan bagiku karena selain menambah pengetahuan juga menambah kecintaanku kepada Rasulullah saw dan sunnahnya.

Aku melangkah menuju halaman sebelah barat Islamic Center tempat digelarnya bazar khazanah ramadhan. Pemerintah provinsi NTB menyediakan stand bazar kerajinan dan kuliner. Para pengunjung dapat menikmati aneka makanan khas Lombok seperti pelecing kangkung dan sate bulayak di stand kuliner. Saat sore hari, aneka panganan untuk berbuka juga dapat masyarakat beli di bazar kuliner tersebut.

Aku tertarik untuk masuk ke stand bazar craft tapi agak sedikit kecewa karena saat itu stand bazar didominasi penjual pakaian muslim. Aku berpikir bahwa akan lebih menarik jika stand bazar craft diisi oleh penjual kerajianan tangan khas Lombok seperti gerabah, mutiara, anyaman rotan, aneka kain tenun Lombok.




Aku sempat berbincang dengan Ibu Sari, salah seorang penjual busana muslim untuk anak-anak. Ia mengaku dapat meraup omset sekitar seratus ribu hingga sejuta rupiah dalam sehari. Ia sangat berharap agar acara-acara seperti ini sering digelar oleh pemerintah karena dapat menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Senada dengan Ibu Sari, salah seorang penjual mainan anak-anak beranama Pak Andi juga mengaku sangat terbantu dengan adanya event pesona khazanah ramadhan ini. Ia dapat meraup omset seratus ribu hingga tiga ratus ribu dalam sehari.

Angka tersebut cukup sulit ia dapatkan di hari-hari biasa. Untuk mendukung para pebisnis di NTB, pesona khazanah ramadan juga menyelenggarakan talkshow bersama pebisnis muda yaitu Sally Giovani. Pemilik bisnis batik trusmi tersebut berbagi pengalaman bisnis kepada masyarakat NTB. Malam semakin larut, aku pulang meninggalkan gemerlap lampu warna-warni Masjid Hubbul Wathan. Aku masih menyimpan rasa penasaran karena belum menaiki menara 99 atau menara asma'ul husna.


Keesokan harinya aku kembali mengunjungi kampung pesona khazanah ramadhan. Aku langsung menuju ke loket pembelian karcis untuk menaiki menara asma'ul husna. Dengan membayar karcis seharga lima ribu rupiah aku langsung memasuki lift ditemani oleh Pak Sadam selaku petugas. Menara asma'ul husna dibuka setiap hari jam 09.00 sampai dengan jam 17.00.

Tidak hanya umat islam yang bisa berkunjung ke Islamic Center dan menaiki menara ini, wisatawan non muslim juga diperbolehkan berkunjung dan pihak pengelola menyediakan pakaian khusus yang menutupi aurat.

Di dalam lift aku sempat berbincang dengan Pak Sadam, beliau mengatakan bahwa waktu terbaik untuk menaiki menara asma'ul husna adalah saat pagi dan sore hari. Saat pagi hari pengunjung dapat melihat keindahan Gunung Rinjani dan sore hari pengunjung dapat menikmati sunset. Kami sampai di lantai 9 dari menara dan sangat takjub dengan pemandangan yang aku lihat. Aku bisa melihat Kota Mataram secara keseluruhan, selain itu pemandangan bukit-bukit di Lombok Barat juga terlihat sangat memesona.

Yang paling membuatku terkesan berada di atas menara ini adalah aku bisa melihat deretan kubah-kubah masjid yang menghiasi pemukiman penduduk Kota Mataram. Ada banyak sekali kubah masjid dan menegaskan betapa Pulau Lombok memang layak mendapat julukan pulau seribu masjid.



     
Setelah puas menikmati pemandangan di lantai sembilan, kami kembali menaiki lift untuk menuju lantai tertinggi menara asma'ul husna yaitu lantai ke-13. Dari lantai 13 kita tidak bisa langsung menikmati pemandangan ditemani hembusan angin karena tertutupi oleh kaca dengan tujuan keamanan. Di lantai 13 ini aku melihat ada dua orang wisatawan asing yang sedang berkunjung. Sekali lagi aku menyaksikan bahwa isu intoleransi antar umat beragama hanyalah hoax belaka.

Jika anda tak percaya bahwa umat islam mampu hidup berdampingan dengan umat lain, sesekali datanglah ke masjid Hubbul Wathan atau Islamic Center Lombok.

Saat turun ke lantai dasar, aku sempat berbincang dengan Pak Zuhri selaku petugas di Masjid Hubbul Wathan. Ia sangat berharap agar lebih banyak masyarakat Lombok dan wisatawan yang berkunjung ke menara asma'ul husna. Ia mengatakan bahwa masih banyak masyarakat Lombok yang belum tahu bahwa kita dapat melihat pemandangan dari atas menara tersebut.

Aku sangat berharap kemeriahan dan hiruk pikuk suasana pesona khazanah ramadhan di Pulau Lombok bisa terus dipertahankan. Jangan sampai setelah ramadhan berlalu masjid yang megah ini menjadi sepi jama'ah. Azan zuhur berkumandang bersama iringan langkah para jama'ah. Aku menatap wajah-wajah terbasuh air wudhu memasuki masjid dengan sajadah di pundak. Suasana ramadhan di Lombok yang akan selalu berkesan bagiku. Semoga kita bertemu dengan kampung pesona khazanah ramadhan di tahun berikutnya.

Video Pesona Khazanah Ramadhan Islamic Center Lombok




"Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #RamadhanDiLombok 2017 yang diselenggarakan REPUBLIKA dan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Barat"