Rabu, 12 Juni 2013

Hanya satu bait dari kisah Dewi Rengganis (Belajar Nembang)...:)

Arus globalisasi telah menggerus banyak hal termasuk kecintaan kaum muda akan sejarah.  Kecintaan akan budaya bangsa ini.

Teman...kali ini aku akan menceritakan kepadamu betapa budaya itu sangat indah, sangat mengagumkan...
Entahlah,,,sejak kapan aku kembali mengazamkan niatku untuk belajar takepan lagi. Setelah dulu, belasan tahun yang lalu aku sangat suka mendengar orang2 membacanya.

Kemarin, hampir magrib aku sampai rumah. perjalanan dari mataram ke rumahku sekitar 1,5 jam. Capek, itu sudah pasti. Tapi aku sudah janji pada diriku sendiri, tahun ini aku harus bisa nembang. Aku ingin menjadi penembang perempuan pertama. Dan, yang paling penting aku ingin meneruskan ilmu dari leluhurku. Sejauh ini, tak ada satupun saudara-saudaraku yang mau belajar. Biasanya malah yang bukan keluarga yang datang belajar dan itu semuanya laki-laki.



Hmmm...pelajaran dimulai dengan takepan dewi rengganis. Sayang sekali teman....yang ada hanya part 2 karena part 1 sedang dipinjam sama salah satu muridnya amaq kake. Semalam itu, hanya belajar 1 bait aja. Ternyata itu tak semudah yang dibayangkan. Walaupun sebenarnya aku sudah bisa baca tulis huruf jejawan, tapi ini lebih sulit. Tulisan di atas daun lontar, ditulis dengan pisau kecil. Ini seperti manuskrip kuno, tulisannya tidak terlalu jelas. Dan bahasa yang dipakai adalah bahasa madya, bahasa halus dalam masyarakat adat sasak.
Aku akan tuliskan satu bait untukmu teman..
"wedie mekah hingkan kasukan,
 gentini hingkang kawarni.
mas ayu hing arge pure muah dewi kadarmanik.
 hing jero ni rage rukmin.
ketige lawan sedulur, setie tan kene pisah.
rahine kelawan wengi. sang diyah kalih tresne maring reje putre".

Tuh kan teman....bahasanya aneh kan?. Kau bisa mengerti teman?. Kalau dulu pas pelajaran muatan lokal bahasa sasak kau jago, kau pasti bisa mengerti.

Satu bait certa di atas tetntang Repatmaje, Dewi rengganis, dan Dewi kadarmanik yang bersenang senang setelah pulang perang. Putri ayu kadarmanik sedang memetik bunga di atas pegunungan. Di ceritakan di tempat itu ada seekor naga emas. Repatmaje, rengganis, dan kadarmanik selalu bertia dan tidak pernah berpisah. Siang dan malam selalu bersama. Kedua perempuan itu memiliki hati yang sama. Mencintai pangeran Repatmaje.

Kisah ini sangat unik teman..Pangeran Repatmaje bersahabat dengan Dewi rengganis yang sangat cantik. perempuan cantik yang memiliki kesaktian luar biasa. Dikisahkan ia bisa terbang dan memakan sari bunga.
Repatmaje dan rengganis saling jatuh cinta. Akan tetapi, Rengganis mengatakan.." Ada seorang perempuan yang lebih cantik dan lebih baik dariku".
"Siapakah dia?". Ungkap Repatmaje penasaran.
"Dia adalah Dewi Kadarmanik".
Maka pergilah Repatmaje dan Rengganis menemui dewi kadarmanik. Akhirnya, Repatmaje bingung karena kedua perempuan itu sama-sama cantik. Akhirnya, Rengganis mengalah. Dan menikahlah repatmaje denga kadarmanik. Akan tetapi, cinta repatmaje dan renganis tidak usai. dan rengganis rela menjadi yang ke dua.

Hmmm....itu saja teman yang bisa kuceritakan kali ini. Kedepannya akan kuceritakan lebih lengkap.Setiap pelajaran nembang akan kubagi padamu. Agar kita tetap mencintai budaya ini.